Nasional

Ini 4 Teror Hewan yang Pernah Hebohkan Indonesia Selain Serangan Harimau Sumatera

Korban serangan harimau diSumatera Selatan kembali bertambah. Korban terbaru adalah Suhadi (50) petani asal Desa Pajar Bulan, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Mayat Suhadi ditemukan pada Minggu (22/12/2019).

Kepergian Suhadi menambah panjang daftarseranganharimau kepada manusia. Dikutip dari , korban konflik harimau dan manusia di daerah Pagaralam dan Lahat, Sumatera Selatan bertambah menjadi empat orang. Serangan harimau bukanlah satu satunya serangan hewan terhadap manusia, masih ada contoh contoh lain.

Dirangkum dari pemberitaan pada 21 Maret 2012, serangan paederus fuscipes atau serangga tomcat sempat menghebohkan warga di beberapa daerah Indonesia. Awalnya terjadi di Apartemen East Coast Surabaya, Selasa (13/3/2012). Terhitung sejak tanggal tersebut, sudah seminggu tomcat menyerang.

Laporan serangan juga dijumpai di Situbondo dan daerah lain, meski tak bisa dikatakan bahwa tomcat sudah menyebar atau mewabah. Tomcat merupakan serangga yang cukup beracun. Serangga ini hidup di daerah yang lembab.

Serangga ini bisanya hidup di pepohonan, tambak dan semak semak. Racun yang terdapat pada serangga ini bisa menimbulkan efek cukup menyakitkan di kulit dan berbagai bagian tubuh manusia meskipun tidak sampai mematikan. Outbreak atau wabah tomcat pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1990. Selain itu, outbreak serupa juga pernah terjadi di Australia, Srinlanka, India, dan Malaysia.

Pertengahan tahun 2019, masyarakat di wilayah Provinsi Jawa Timur mendapat serangan dari ulat bulu. Dikutip dari pemberitaan , 21 Juni 2019, Wabah ulat bulu menyerang permukiman warga di tiga desa di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, terjadi pada bulan Mei Juni 2019. Ketiga desa itu adalah Desa Capang, Gajahrejo, dan Pucangsari.

Kondisi penyerangan hama ulat bulu yang paling parah ada di Dusun Semambung, Desa Capang. Serangan ulat sampai masuk ke rumah, mulai dari atap, teras, tembok dan bagian bagian lainnya. Ini merupakan serangan ulat bulu yang paling parah dari serangan ulat bulu sebelumnya.

Ulat bulu ini memang tidak membahayakan. Tidak membuat gatal atau alergi lainnya. Tapi, bagi warga setempat keberadaan ulat bulu ini sangat meresahkan.

Serangan serangan tawon Vespa Affinis (tawon ndas ) menggegerkan masyarakat wilayah Jawa Tengah seperti Klaten, Kudus, Sukoharjo, Solo, Pemalang, Brebes dan Tegal. Di Sukoharjo, sejak Januari hingga November 2019, tercatat sekitar 400 sarang tawon ndas bahkan telah dimusnahkan. Tak hanya Jawa Tengah, kasus tawon ndas juga menghantui wilayah Jawa Timur, yakni di Kediri dan Tuban.

Tawon ini juga muncul di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Selain di Pulau Jawa, tawon ndas juga muncul di Sinjai Borong, Sulawesi Selatan. Serangan tawon ndas jangan dianggap remeh, jika salah penangan, nyawa bisa menjadi taruhannya.

Contohnya serangan tawon ndas di Klaten, dikutip dari , sejak 2016 Pemkab Klaten mencatat laporan sarang tawon ndas sebanyak 667 kasus. Sebanyak 10 orang tewas akibat sengatan tawon itu. Pada tahun 2019 tercatat di Klaten jumlah kasus serangan 13 dengan jumlah kematian 2 orang di Kecamatan Wonosari dan Wedi.

Sementara di Pemalang, telah 9 korban meninggal sejak tahun 2018. Teror ular kobra tengah terjadi di sejumlah daerah. Ular kobra yang jumlahnya bisa mencapai puluhan, membuat warga resah.

Seperti yang terjadi di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Akibat adanya anakan kobra di lingkungannya, satu keluarga terpaksa mengungsi. Di Jember, puluhan anakan kobra juga meneror warga Sukorambi, Jawa Timur pada Jumat (6/12/2019). Tak hanya di Jember, warga Ciracas, Jakarta Timur, juga dihebohkan dengan keberadaan ular kobra.

Dikutip dari laman , pakar Toksonologi dan bisa ular Dr dr Tri Maharani, M.Si SP, mengatakan, bisa ular kobra dominan mengandung mycrotoxin, cardiotoxin, neurotoxin, dan cytotoxin. "Paling banyak yang menyebabkan kematian di Indonesia karena (kandungan) cardiotoxin dan neurotoxin," ujar Tri. Lamanya waktu hingga menimbulkan kematian ini tergantung dari banyaknya venom yang masuk ke dalam tubuh.

"Kalau banyak cardiotoxin dan neurotoxin nya bisa cepat (meninggalnya), bisa beberapa menit sampai jam," kata Tri. Jika kerusakan sel tidak diberikan antivenom, maka semua jaringan bisa rusak dan mati, seperti otot pembuluh darah syaraf dan sebagainya.

Berita Terkait

Susul Militer Dunia, Effendi Simbolon: TNI Harus Punya Program Kekuatan Nuklir

Syiran Uchie

Pengamat Politik Ini Peringatkan Anies Baswedan soal Lem Aibon Jadi Momentum Membandingkan Ahok

Syiran Uchie

Erick Thohir Minta Ahok & Nicke Widyawati Bongkar Usaha & Kondisi dari 142 Anak Usaha Pertamina

Syiran Uchie

Ratusan Ribu yang Datang Hari Ini Berjalan Damai Anies Baswedan Beri Sambutan di Reuni Akbar 212

Syiran Uchie

Andre Rosiade Apresiasi Langkah Erick Thohir Terkait Pencopotan Direktur penting Garuda Indonesia

Syiran Uchie

Ini Yang Dilakukan Polisi Antisipasi Pergerakan Massa dari Luar Jakarta

Syiran Uchie

Pesawat Tempur F16 hingga Rudal Anti Serangan Udara Siap Amankan Jakarta saat Pelantikan Presiden

Syiran Uchie

Minahasa Utara Status Waspada Tsunami Gempa M 7.1 di Jailolo Maluku Utara Dirasakan hingga Manado

Syiran Uchie

Kendari Cerah Berawan Prakiraan Cuaca BMKG Denpasar Cerah Senin 25 November 2019

Syiran Uchie

Survei Snapcart, Mayoritas Responden Sebut Uang THR Buat Belanja dan 91 Persen Belanja Secara Online

Syiran Uchie

Ada Anak Pejabat yang Pernah Berurusan dengan KPK Mengenal 3 Anggota DPR yang Dilantik Hari Ini

Syiran Uchie

Sekjen PDIP: Megawati Jokowi Akan Bertemu Bahas Perubahan Nomenklatur

Syiran Uchie

Leave a Comment