Sains

6 Dampak Bahaya Penggunaan Narkoba pada Otak, Halusinasi hingga Kerusakan Saraf

Belum genap sepekan, kabar ditangkapnya beberapa artis menghiasi pemberitaan di berbagai media. Sebut saja Nunung, Zulfikar alias Jamal Preman Pensiun, sampai yang terbaru Jefri Nichol. Mengetahui dampak buruk narkoba menjadi penting, supaya seseorang tidak terjerumus ke dalam pengaruh barang haram itu.

Perlu diketahui, bahwa penggunaan narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya dapat mempengaruhi kinerja otak yang notabene adalah pusat kendali tubuh. Akibatnya, hal tersebut akan berpengaruh juga terhadap seluruh fungsi tubuh. Apa saja dampak buruk yang bisa diakibatkan oleh narkoba terhadap otak penggunanya?

Dikutip dari h allosehat.com , berikut penjelasan dampak buruk yang bisa disebabkan oleh narkoba terhadap otak. Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa narkoba berpengaruh terhadap kinerja otak. Karena itu, narkoba dapat mengubah suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran, hingga perilaku pemakainya.

Itu mengapa narkotika disebut sebagai zat psikoaktif. Beberapa efek narkoba pada otak misalnya menghambat kerja otak, hal ini disebut depresansia, hal ini akan menurunkan kesadaran hingga membuat seseorang merasa mengantuk. Contoh obat obatan yang dapat menyebabkan hal tersebut adalah golongan opiodia seperti candu, morfin, heroin, dan petidin.

Selain itu, obat penenang seperti pil KB, Lexo, MG, dan juga alcohol juga bisa menimbulkan hal yang sama. Narkoba mempengaruhi otak yang bertanggung jawab atas “kehidupan” perasaan yang disebut limbus. Hipotalamus sebagai pusat kenikmatan pada otak adalah bagian dari sistem limbus.

Narkoba juga dapat memacu kerja otak, sehingga kerap disebut stimulant. Hal ini akan membuat seseorang merasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, serta hubungan dengan orang lain menjadi akrab. Meski begitu, hal ini dapat menyebabkan seseorang tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat, serta tekanan darah meningkat.

Efek ini biasa ditimbulkan oleh amfetamin, ekstasi, shabu, kokain, serta nikotin yang terdapat pada tembakau. Selain beberapa dampak buruk di atas, ada juga jenis narkoba yang dapat menyebabkan halusinogen, misalnya LSD. Selain LSD, ada juga ganja yang menimbulkan berbagai pengaruh seperti persepsi waktu dan ruang serta meningkatkan daya khayal.

Karena itu, ganja dapat digolongkan sebagai halusinogenika. Di dalam otak, terdapat berbagai zat kimia yang disebut neurotransmitter. Zat kimia ini bekerja pada sambungan sel saraf yang satu dengan yang lainnya.

Sejumlah neurotransmitter itu mirip dengan beberapa jenis narkoba. Semua zat psikoaktif, entah itu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya dapat mengubah perilaku, perasaan, serta pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter. Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah dopamin.

Penyalahgunaan narkotika juga dapat mempengaruhi kerja sistem saraf. Narkoba dapat menyebabkan gangguan saraf sensorik yang akan mengakibatkan rasa kebas dan penglihatan buram hingga bisa menyebabkan kebutaan. Narkoba juga dapat menyebabkan gangguan saraf otonom.

Gangguan saraf ini akan mengakibatkan gerakan yang tidak dikehendaki melalui gerak motoric. Akibatnya, seseorang yang dalam kondisi ini dapat melakukan apa saja di luar kesadarannya. Lebih lanjut, narkoba juga dapat mengakibatkan gangguan pada saraf motorik.

Akibatnya seseorang dapat melakukan gerakan tanpa koordinasi dengan sistem motoriknya. Misalnya ketika seseorang sedang di bawah pengaruh narkotika, kepalanya bisa goyang goyang sendiri dan baru akan berhenti jika pengaruh narkotika itu hilang. Terakhir, narkoba juga dapat mengakibatkan gangguan saraf vegetative.

Hal ini akan berkaitan dengan Bahasa yang keluar di luar kesadaran. Tak hanya itu, efek narkoba pada otak juga bisa menimbulkan rasa takut dan kurang percaya diri jika seseorang tidak memakainya. Dalam jangka panjang, narkoba secara perlahan dapat merusak sistem saraf di otak mulai dari kerusakan ringan hingga permanen.

Saat seseorang menggunakan narkoba, muatan listrik di dalam otak akan berlebihan. Apabila sudah kecanduan, maka lama kelamaan dapat menyebabkan kerusakan otak. Ketergantungan adalah semacam ‘pembelajaran’ sel sel otak pada pusat kenikmatan.

Ketika seseorang mencoba mengonsumsi narkoba, maka otak akan membaca tanggapan tubuhnya. Jika merasa nyaman, otak mengeluarkan neurotransmitter dopamin dan akan memberikan kesan menyenangkan. Otak merekamnya sebagai sesuatu yang dicari sebagai prioritas karena dianggap menyenangkan.

Akibatnya, otak membuat program salah, seolah olah orang itu memerlukannya sebagai kebutuhan pokok dan terjadi kecanduan atau ketergantungan. Dalam keadaan ketergantungan, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Untuk mendapatkan narkoba, dia akan melakukan segala cara seperti mencuri bahkan membunuh.

Pada kasus ketergantungan, seseorang harus senantiasa memakai narkoba, jika tidak maka timbul gejala putus obat atau disebut juga sakau. Gejala yang ditimbulkan bergantung pada jenis narkoba yang digunakan. Gejala sakau opioida atau heroinmirip orang sakit flu berat, yaitu hidung berair, keluar air mata, bulu badan berdiri, nyeri otot, mual, muntah, diare, dan sulit tidur.

Narkoba juga mengganggu fungsi organ organ tubuh lain, seperti jantung, paru paru, hati, dan sistem reproduksi, sehingga dapat timbul berbagai penyakit. Perasaan nikmat, rasa nyaman, tenang atau rasa gembira yang dicari oleh pemakai narkoba harus dibayar mahal dengan dampak buruknya seperti ketergantungan, kerusakan berbagai organ tubuh, berbagai macam penyakit, rusaknya hubungan dengan keluarga dan teman, rusaknya kehidupan moral, putus sekolah, pengangguran, serta hancurnya masa depan. Mengonsumsi narkoba secara terus menerus menyebabkan peningkatan toleransi tubuh sehingga pemakai tidak dapat mengontrol penggunaannya dan cenderung untuk terus meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi.

Hal ini yang disebut dengan overdosis. Saraf merupakan satu di antara organ penting pada manusia yang mengatur sistem tubuh. Jika ia mengalami kerusakan maka bisa menyebabkan kecacatan yang permanen dan sulit untuk diperbaiki.

Berita Terkait

Ahli Psikologi Ungkap Rasa Takut VS Rasa Penasaran Pada Cerita Horor KKN di Desa Penari Viral

Syiran Uchie

Gerakan Alis Jadi Cara Anjing Ajak Komunikasi dengan Manusia

Syiran Uchie

Benarkah Emas Tidak Berasal dari Bumi? Berikut Hasil Penelitian

Syiran Uchie

Fakta-fakta Lebah Raksasa Asal Maluku, Pernah Dijual Ratusan Juta Rupiah

Syiran Uchie

Aurora yang Indah Muncul di Langit Menyerupai Bentuk Huruf ‘J’ Namun Bisa Juga Huruf ‘P’

Syiran Uchie

9 Fakta Sains Tak Terduga Lengkap dengan Gambar Ilustrasi: Belalang Punya Telinga di Perut

Syiran Uchie

Fakta Tanaman Bajakah yang Viral Mampu Sembuhkan Kanker, Hasil Penelitian 2 Pelajar Palangkaraya

Syiran Uchie

Begini Penjelasan Ilmiah Kenapa Wisatawan Bisa Terseret ‘Ombak Pembunuh’ di Pantai Selatan

Syiran Uchie

PT Timah dan Batan Sepakati Kerja Sama Pengolahan Rare Minerals

Syiran Uchie

Semut Charlie Jadi Viral di Sosial Media, Apakah Sama dengan Tomcat?

Syiran Uchie

Inovasi Fast Charging Station Dihadirkan dalam Konvoi BPPT 7 September Mendatang

Syiran Uchie

Lebih Dekat Dengan Siswa Peneliti Khasiat Bajakah untuk Obat Kanker, Diproteksi Usai Karyanya Viral

Syiran Uchie

Leave a Comment